Lokasi wisata ziarah dengan ritual aneh
Gunung Kemukus
terletak di sebuah bukit di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang,
Sragen, Jawa Tengah yang di kelilingi aliran air Waduk Kedung Ombo.
Gunung Kemukus memiliki ritual yang melibatkan hubungan intim lelaki dan perempuan yang bukan pasangan sahnya. Konon, dengan melakukan ritual tersebut akan mendatangkan kesuksesan jabatan maupun harta kekayaan akan bertambah. Ritual ini dilatarbelakangi cinta terlarang Pangeran
Samudro kepada ibu tirinya, Dewi Ontrowulan. Keduanya kemudian
diasingkan ke Gunung Kemukus.

Objek wisata religius
Gunung Kemukus
ini merupakan makam Pangeran Samudro. Pangeran ini dipercaya sebagai
putra dari Raja Majapahit yang kemudian menikahi ibu tirinya. Kendati
demikian, makam ini sering menjadi lokasi ziarah yang tidak hanya oleh
warga setempat tapi juga masyarakat dari berbagai daerah.
Entah bagaimana, cerita berkembang
menjadikan makam Pangeran Samudro menjadi tempat pesugihan dengan aroma
seks bebas. Akibatnya wanita malam hingga penginapan pun bertebaran.
Ritual aneh ini berlangsung setiap malam Jumat pon dan malam Jumat
kliwon.
Sementara
itu, puluhan petugas gabungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Sragen, Jawa Tengah melakukan penggeledahan beberapa kali. Dalam
penggeledahan itu di antaranya beberapa kafe dan tempat karaoke yang
kerap dijadikan sebagai tempat prostitusi. Petugas gabungan yang terdiri
dari Satpol PP dan polisi memeriksa satu per satu kafe dan tempat
karaoke.
Meski tidak satu pun tamu yang berkunjung, ternyata
ditemukan beberapa ruangan dan kamar yang sengaja disiapkan pengelola.
Setelah penggeledahan petugas menutup paksa kafe dan tempat karaoke itu.
Taufiqurahman, seorang peneliti mengatakan ritual itu hanya mitos yang diciptakan guna memenuhi motif ekonomi. Perputaran
rupiah dalam bisnis prostitusi terselubung yang dibungkus dalam ritual
seks tersebut tergolong besar. Dari catatannya, objek wisata Makam
Pangeran Samodro di Gunung Kemukus tiap tahun menyumbang sekitar Rp 190
juta untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sragen yang salah satunya
didapat dari retribusi. "Tiap tahun ada sekitar 30.000 orang yang
mengunjungi makam tersebut."
Melihat fakta besarnya PAD yang diberikan oleh wisata seks di Gunung Kemukus, beranikah Pemkab Sragen menutup wisata yang penuh dengan pelanggaran norma asusila budaya timur???